Jumat, 02 Juli 2021

 

Artikel Refleksi

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

PGP 1 – Kabupaten Badung Hendra Pratisnojati Shoheh Muttaqin 3.1 – Aksi Nyata



Peristiwa (facts)

A.   Latar Belakang

Seorang pemimpin pembelajaran yang baik adalah seorang yang mampu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan- keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpinnya, yang pada akhirnya akan berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid. Bob Talbert mengatakan bahwa mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tentang sebuah nilai atau keputusan dalam suatu masalah yang dihadapi.

Dalam pengambilan sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang baik diperlukan langkah-langkah dan prosedur yang baik dan benar pula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilah mana yang termasuk dilema etika dan mana yang termasuk bujukan moral. Kemudian, ketika kita sudah bisa mengidentifikasi hal tersebut termasuk yang mana, maka langkah selanjutnya adalah mengelompokkan kedalam empat jenis paradigma, lalu dilanjutkan dengan penentuan prinsip pengambilan keputusan yang terkait dengan dilema etika. Kemudian langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah melakukan pengujian dengan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan terhadap permasalahan yang dihadapi.

Dengan menerapkan formula 4-3-9 (yaitu 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan) dalam suatu dilema etika maka akan didapatkan keputusan yang optimal. Atas dasar hal tersebut maka dipandang perlu untuk mengetok tularkan pengetahuan ini di lingkungan sekolah saya. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan komunikasi, koordinasi, dan permohonan izin kepada kepala sekolah dalam rangka untuk memperlancar kegiatan yang akan  dilakukan.


        Kegiatan koodinasi dan  komunikasi     dengan kepala sekolah dilaksanakan secara informal dan dilakukan dengan bincang-bincang santai. Hasil dari diskusi dan bincang-bincang dengan kepala sekolah diperolah suatu kesimpulan bahwa kepala sekolah menyetujui dan mendukung tentang rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, serta diperoleh kesepatakan bahwa akan diadakan rapat internal antara dewan guru untuk mensosialisasikan program pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

 

B.   Alasan Pelaksanaan Aksi

   Pelaksanaan aksi ini didasarkan pada keinginan dari saya untuk dapat mengetoktularkan pengetahuan yang didapat dari     program pendidikan guru penggerak sehingga orang-orang (komunitas) disekitar saya turut juga merasakan maanfaatnya. Alasan lain yang juga mendasari kegiatan ini adalah karena saya sudah merasakan dampak dan manfaatnya ketika menerapkan konsep konsep tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di kelas yang saya ampu. Saya berkeinginan supaya murid dan guru di kelas lain merasakan juga manfaatnya. 

    Selain itu berdasarkan hasil coaching dengan salah satu rekan guru, diperoleh suatu permasalahan yang menurut guru yang bersangkutan cukup sulit untuk mengambil suatu keputusan. Karena masalah yang dihadapinya termasuk dalam dilema etika, dan bernilai benar dan benar. Dari hasil coaching tersebut,maka saya berpikir bahwa dengan bertambahnya wawasan rekan guru terkait konsep pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, maka akan lebih mudah dalam pengambilan suatu keputus


C.   Hasil Aksi Nyata yang dilakukan

Kegiatan sosilasisasi dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disepakati sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan pada hari senin, 12 April   2021 ketika semua guru dan tenaga kependidikan hadir di sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka langsung. Hal pertama yang dilakukan adalah menjelaskan mengenai berbagai teori yang telah didapat dalam program guru penggerak yang berkaitan dengan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, yang dimulai dari membedakan suatu masalah itu termasuk dilema etika atau bujukan moral, dilanjutkan dengan   penjelasan   formula   4-3-9   (yaitu   4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan).



Dari hasil pemaparan ini terlihat banyak rekan sejawat yang tertarik dan antusias mengikuti pemaparan terkait kajian teori. Supaya pemahaman lebih mendalam, saya memberikan contoh langsung terkait kasus yang ada pada kelas saya dan kita coba untuk memecahkan bersama-sama.

Saya jelaskan kepada rekan guru bahwa dikelas saya terdapat seorang siswa yang bernama Ni Ketut Anggreni yang dalam 2 minggu terakhir tidak pernah mengikuti pertemuan virtual dan mengumpulkan tugas. Padahal sebelumnya anak ini selalu rajin dalam mengumpulkan tugas dan mengikuti pembelajaran daring lainnya. Ketika saya mencoba bertanya dengan teman yang dekat dengan rumah Anggreni, diperoleh informasi bahwa Anggreni sedang pulang kampung yang disana jaringan telepon kurang bersahabat. Pada satu kesempatan saya bisa menghubungi Anggreni via whatsapp. Saya bertanya kenapa dia jarang hadir di pembelajaran? Apa yang menyebabkan dia enggan hadir? Dia hanya menjawab bahwa nanti dia akan mengumpulkan tugasnya.

Pada awal tahun ajaran, saya jelaskan bahwa telah ada suatu kesepakatan kelas bahwa nilai PTS siswa tidak akan dimasukkan ke daftar nilai sebelum siswamemenuhi tagihan tugas- tugas nya dan mereka memahami itu sehingga semester ganjil tidak ada masalah. Setelah pelaksanaan PTS selesai, saya lihat bahwa nilai PTS Anggreni sudah diatas KKM. Sedangkan dia masih belum mengumpulkan beberapa tagihan tugas seperti teman-temannya yang lain. Hal ini menjadi dilema bagi saya apakah saya tetap memasukkan nilai hasil PTS Anggrenu (apalagi nilai PTS nya tuntas memenuhi KKM) ataukah saya menunda menuliskan hasil PTS Anggreni di daftar nilai karena dia belum mengumpulkan tagihan tugasnya sesuai esepakatan pada awal tahun ajaran baru?

Setelah saya menjelaskan dan memaparkan contoh kasus yang saya hadapi, rekan-rekan guru berdiskusi dan memutuskan ini adalah termasuk kasus dilema etika, dimana harus ada pilihan apakah saya harus memasukkan nilai Anggreni di daftar nilai karena telah memenuhi KKM (benar) ataukah harus menunda memasukkan nilai ke daftar nilai karena dia belum menyelesaikan tagihan yang ditugaskan kepadanya (benar). Hasil analisis rekan saya sudah benar dan saya menyetujui hal tersebut.

Kegiatan selanjutknya adalah mencoba membedah kasus tersebut dengan menggunakan formula 4-3-9 yaitu 4 paradigma,

3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Anggeni, dai pulang ke kampung halaman karena ada suatu hal mendesak dan dia sudah mohon maaf karena tdak menghubungi guru untuk meminta izin dan menurutnya itu kesalahannya sendiri dan di kemudian hari tidak akan mengulanginya. Untuk diketahui, selama sebelum PTS Anggreni sudah belajar materi dan kisi-kisi soal PTS yang saya berikan ke anak-anak di grup WhatsApp melalui YouTube sehingga dia bisa mengerjakan soal- soal PTS dengan baik. Untuk mengejar ketertinggalan tugas-tugasnya, Anggreni meminta izin untuk diberikan waktu dan akan mengumpulkan segera sebelum libur lebaran.

Setelah kami berdiskusi, disepakati bahwa paradigma yang kami gunakan dalam pengambilan keputusan ini adalah Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) dimana pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan,                          tapi            terkadang membuatpengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Selanjutnya prinsip yang kami sepakati gunakan adalah prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) karena kami menguji tindakan kami dengan menempatkan diri kami pada posisi Anggreni dan membayangkan bagaimana rasanya jika saya adalah Aggreni yang sedang menghadapi hal yang mendesak dan panic yang menyebabkan harus pergi ke kampungnya. Langkah selanjutnya adalah menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada studi kasus ini. Pada tahap ini saya menjelasakan langsung hasil analisis saya mengenai kasus yang dihadapi oleh Anggreni. Nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut adalah nilai keadilan dan rasa kasihan; pihak yang terlibat dalam situasi tersebut adalah saya sendiri sebagai orang yang sedang mengalami dilema etika dan Anggreni murid kelas VI; fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut antara lain : Anggreni pulang kampung karena ada suatu hal mendesak dan dia mohon maaf karena tdak menghubungi guru untuk meminta izin dan menurutnya itu kesalahannya sendiri dan di kemudian hari tidak akan mengulanginya. Selama sebelum PTS Anggreni belajar materi dan kisi-kisi soal PTS yang saya berikan ke anak-anak di grup WhatsApp melalui YouTube sehingga dia bisa mengerjakan soal-soal PTS dengan baik. Untuk mengejar ketertinggalan tugas-tugasnya, Anggreni meminta izin untuk diberikan waktu dan akan mengumpulkan segera sebelum libur lebaran. Selanjutnya adalah melakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut,   dalam   situasi   tersebut   ada   aspek pelanggaran aturan sekolah yaitu Anggreni tidak izin ketika dia berhalangan mengikuti pembelajaran di sekolah dan tidak mengerjakan tugas-tugasnya. Dalam kasus tersebut tidak ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi. Berdasarkan perasaan dan intuisi saya, ada yang salah dalam situasi ini yaitu saya berusaha membenarkan jika saya memasukkan nilai PTS Anggreni sedangkan dia belum menyelesaikan tugas-tugasnya. Yang saya rasakan bila keputusan saya dipublikasikan di halaman depan koran, maka saya akan merasa tidak nyaman, karena orang akan tahu bahwa ada kemungkinan sisi ketidakjujuran pada diri saya. Kemungkinan keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola saya dalam situasi ini adalah dengan meminta Anggreni menyelesaikan tugasnya dan akan saya masukkan nilai PTSnya jika tagihan tugasnya sudah terpenuhi; paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika ini adalah paradigma Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) yaitu apakah saya tetap memasukkan nilai hasil PTS Anggreni (apalagi nilai PTS nya tuntas memenuhi KKM) ataukah saya menunda menuliskan hasil PTS Anggreni di daftar nilai karena dia belum mengumpulkan tagihan tugasnya sesuai kesepakatan pada awal tahun ajaran baru pembelajaran matematika; Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, Prinsip yang saya gunakan adalah prinsip Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma) yaitu saya akan memberikan kesempatan Anggreni untuk menyelesaikan tugasnya; Keputusan yang akan saya ambil yaitu saya akan tetap tetap memasukkan nilai hasil PTS Anggreni dengan berbekal kepercayaan saya pada Andini bahwa dia akan menyelesaikannya sebelum libur lebaran; keputusan yang saya buat sudah tepat karena rasa percaya dan kasihan saya pada Anggreni.

Seteleh selesai membedah kasus Anggreni rekan guru merasa senang dan puas karena mendapatkan ilmu baru yang segera diterapkannya ketika dihadapkan pada suatu kasus yang sejenis.


Feelings

Hal yang saya rasakan setelah melaksanakan rangkaian aksi nyata tersebut, saya merasa senang dan lega karena saya mengetoktularkan pengetahuan baru yang saya miliki dalam komunitas saya di sekolah sehingga rekan- rekan guru bisa merasakan juga manfaatnya. Selain itu pada kasus Anggreni saya merasa senang, sekaligus lega karena telah memutuskan sesuatu dengan benar melalui menggali kebenaran yang terjadi pada Anggreni dan disetujui oleh rekan-rekan sejawat. Pada sesi ini saya merasa sangat terbantu sekali ketika saya melakukan pengambilan keputusan harus menggunakan paradigma apa, memilih prinsip pengambilan keputusan yang bagaimana dan menentukan keputusan akhir dengan terlebih dahulu melakukan 9 langkah pengambilan keputusan tersebut.

 

Findings

Pembelajaran yang saya peroleh dari pelaksanaan aksi nyata tersebut adalah bahwa setiap ilmu akan lebih bermanfaat dan lebih berguna lagi ketika disebarluaskan kepada sesama, selain itu saya memahami bahwa sebagai guru tugas kita tidak hanya sebagai pendidik tapi kita juga harus menunjukkan empati kita dan memposisikan diri kita sebagai siswa tersebut agar mereka tidak merasa sedang dihakimi ketika mereka menghadapi masalah, tapi secara bersama-sama menemukan solusi dari masalah yang terjadi. Kita harus terbiasa menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam melakukan pengambilan keputusan. Dengan melakukan hal tersebut maka keputusan yang kita ambil bisa tepat dan tidak merugikan murid ataupun guru.

 

Future

Rencana perbaikan yang akan saya lakukan di masa yang akan datang adalah saya akan terus membagi ilmu yang saya peroleh pada berbagai kegiatan yang saya ikuti, termasuk dalam program guru penggerak ini. Selain itu saya akan meminta murid untuk memenuhi tagihan penugasan sebelum kegiatan PTS (Penilaian Tengah Semester) ataupun PAS (Penilaian Akhir Semester) agar tidak ada lagi ketika sudah waktunya PTS atau PAS masih ada murid yang belum menyelesaikan tugasnya.




Jumat, 09 April 2021

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 



Program Pendidikan Guru  Penggerak

PGP – 1 – Kabupaten Badung – Hendra Pratisnojati Shoheh Muttaqin
3.1.a.8 Koneksi Antar Materi

Sabtu, 31 Oktober 2020

Pembelajaran Terintegrasi

 

Hakikat pembelajaran terintegrasi.

Secara teoritis terdapat dua istilah yang memiliki hubungan yang saling terkait dan ketergantungan satu dengan yang lainnya, yaitu integrative curriculum (kurikulum terpadu) dan integreted learning (pembelajaran terpadu). Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, keterampilan dan sikap (Wolfinger dalam Hernawan:15). Perbedaan yang mendasar dari konsepsi kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu terletak pada segi perencanaan dan pelaksanaannya. Idealnya, pembelajaran terpadu bertolak dari kurikulum terpadu.

Pembelajaran terpadu dalam bahasa Inggris adalah integrated teaching and learning atau integrated curriculum approach. Konsep pembelajaran terpadu digagas oleh John Dewey, menurut Dewey pembelajaran terpadu sebagai usaha untuk mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik dan kemampuan pengetahuannya (Saud dalam Ananda:3). Dijelaskan lebih lanjut oleh Dewey bahwa pembelajaran terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupannya.

Menurut T. Raka Joni (dalam Kadir:6) bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. Beane (dalam Ananda:3) menjelaskan pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran yang memadukan beberapa pokok bahasan. Keterpaduan dalam pembelajaran tersebut dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek materi belajar, dan aspek kegiatan pembelajaran. Sementara itu Jacobs (dalam Ananda:3) menjelaskan pembelajaran terpadu adalah sebuah pendekatan dalam pembelajaran sebagai suatu proses untuk mengaitkan dan mempadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua aspek perkembangan peserta, kebutuhan dan minat peserta, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan sosial keluarga.

Hadi Subroto (dalam Kadir:6) mendefinisikan secara lebih operasional bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar siswa, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Maka pada umumnya pembelajaran tematik/terpadu adalah pembelajaran yang menggunakan tema tertentu untuk mengaitkan antara beberapa isi mata pelajaran dengan pengalaman kehidupan nyata sehari-hari siswa sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa.

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami (Hernawan:1.5).

Drake dan Burns (dalam Murfiah) yang menyatakan bahwa: “Multidisciplinary approaches focus primarily on the disciplines. Teachers who use this approach organize standars from the disciplines around a thema. Figure 1.2 shows the relationship of different subjects to each other and to a common theme. There are many different ways to create multidisciplinary curriculum, and they tend differ in the level of intensity of the integration effort”. Konsep ini menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin berfokus di atas cabang- cabang disiplin. Guru yang menggunakan pendekatan ini mengorganisasikan standar disiplin yang membentuk sebuah tema. Pendekatan multidisiplin merupakan pendekatan yang dikembangkan dalam kurikulum 2013, terutama dalam pendekatan yang dikembangkan dalam kurikulum sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sebuah pendekatan tematik terpadu dari beberapa mata pelajaran, namun materi yang dikembangkan disusun seimbang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Pembelajaran terpadu menurut Joni (dalam Ananda:4) adalah suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang secara holistik, bermakna dan otentik. Sukayati (dalam Ananda:4) menjelaskan pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasa lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncpeserta an, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar peserta, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna (Hadisubroto dalam Trianto, 2011:56). Hal senada dengan penjelasan di atas dipaparkan oleh Sukandi dkk (Trianto, 2011:56) bahwa pembelajaran terpadu pada dasarnya dimaksudkan sebagai kegitan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan cara ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran yang disajikan tiap pertemuan. Menurut Trianto (2011:57) pembelajaran terpadu adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang dipelajari itu melalui pengamatan langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang mereka pahami.

Dalam pemaknaan lainnya pembelajaran terpadu adalah pendekatan holistik (a holistic approach) yang mengkombinasikan aspek epistemologi, sosial, psikologi dan pendekatan pedagogi untuk pendidikan peserta yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan domain-domain pengetahuan (Saud dalam Kadir:5).

Pembelajaran terpadu sangat sederhana jika diterapkan dalam sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), dalam materi yang dikembangkan atau mata pelajaran yang dikembangkan memerlukan pendekatan yang terpadu sebagai acuan dasar untuk membentuk sebuah tema, pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah memungkinkannya dengan pendekatan tematik tersebut. Bahkan, kompetensi inti kelas I menyeimbangkan kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Standar kompetensi lulusan pada ranah sikap pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar serta dunia dan peradabannya dengan cara menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan.

Secara sederhana apa yang dimaksudkan dengan pembelajaran tematik adalah kegiatan siswa bagaimana seorang siswa secara individual atau secara kelompok dapat menemukan keilmuan yang holistik. Pembelajaran terpadu/tematik menawarkan model-model pembelajaran yang menjadikan aktivitas pembelajaran itu relevan dan penuh makna bagi siswa, baik aktivitas formal maupun informal, meliputi pembelajaran inquiry secara aktif sampai dengan penyerapan pengetahuan dan fakta secara pasif, dengan memberdayakan pengetahuan dan pengalaman siswa untuk membantunya mengerti dan memahami dunia kehidupannya

Pembelajaran terpadu adalah pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan menintegrasikan kegiatan kedalam semua bidang pengembangan, meliputi aspek kognitif, social-emosional, bahasa, moral, dan nilai nilai agama, fisik motorik, dan seni. Semua bidang pengembangan tersebut dijabarkan kedalam kegiatan pembelajaran yang dipusatkan pada satu tema sehingga pembelajaran terpadu, disebut juga pembelajaran tema. Pelaksanaan pendekatan pembelajaran terpadu ini bertolak dari suatu topic yang dipilih dan dikemabangkan oleh guru bersama dengan anak. tujuan dari tema ini bukan hanya semata - mata untuk menguasai konsep konsepa tau keterampilan saja, akan tetapi konsep konsep dan keterampilan tersebut berkaitan terkait satu sama lain dan digunakan sebagai alat dan wahana untuk mempelajarai dan menjelajahi tema yang dipilih.

 

Berdasarkan pemaparan di atas dapatlah dipahami bahwa pembelajaran terpadu merupakan pendekatan dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan beberapa materi ajar dan atau beberapa mata pelajaran yang terkait secara harmonis untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik. Dari uraian pendapat diatas, maka pengertian pembelajaran terpadu dapat disimpulkan sebagai berikut.

Ø   Pembelajaran terpadu diartikan sebgai pendekatan pembelajaran yang melibatkan atau menghubungkan beberapa mata pelajaran/bidang studi yang mencerminkan dunia nyata dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.

Ø   Pembelajaran beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain, baik berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi yang lainnya.

Ø   Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan anak secara simultan.

Ø   Merakit atau menghubungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang pengembangan yang berbeda, dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.


Pembelajaran terpadu sangat diperlukan terutama untuk jenjang sekolah dasar, karena perkembangan anak sekolah dasar cenderung bersifat holistik. Perkembangan ini merupakan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial yang tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya dan sifatnya terpadu (holistic) dengan pengalaman serta kehidupan dalam lingkungan sekitar. Pembelajaran terpadu pada anak usia dini dalam hal ini murid SD kelas 1 sampai kelas 6 didasarkan pada keyakinan bahwa anak akan tumbuh dengan baik jika dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. yang akan membentuk pengalaman secara totalitas dalam pribadi anak.

Alasan perlunya penerapan proses pembelajaran yang memadukan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain, atau satu mata pelajaran dengan bahan ajar tertentu, sehingga menjadi satu menu yang akan disajikan dalam proses pembelajaran (Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas 2004), yaitu:

a.    Alasan Empirik, karena pada hakikatnya pengalaman hidup ini sifatnya kompleks dan terpadu, artinya menyangkut berbagai aspek yang saling terkait. Dari kondisi ini sebaiknya proses pembelajaran di sekolah sebenarnya dapat dilaksanakan dengan meniru model pengalaman hidup di dalam masyarakat, karena proses pembelajaran yang demikian lebih sesuai dengan realitas kehidupan kita.

b.    Alasan Teoritis Ilmiah, karena keadaan dan permasalahan dalam kehidupan akan terus berkembang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, muatan ilmu pengetahuan dan informasi yang semakin bertambah itu tidak mungkin dapat dimasukkan ke dalam kurikulum menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, diperlukan satu organisasi kurikulum yang isinya lebih merupakan pilihan bahan ajar yang secara khusus dipersiapkan sebagai menu untuk proses pembelajaran. Dari sinilah muncul fusi mata pelajaran yang melahirkan kurikulum terpadu (integrated curriculum), dan kemudian melahirkan kurikulum inti (core curriculum). Pembelajaran terpadu bertujuan untuk mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sera permasalahan yang begitu kompleks dalam masyarakat.

Selain hal tersebut, terdapat beberapa alasan lain mengapa pembelajaran terpadu cocok digunakan di tingkat SD (Hasnawati:3):

1.      Pendidikan di SD harus memperhatikan perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan taraf perkembangannya, anak SD memandang dan mempelajari segala peristiwa yang terjadi disekitarnya atau yang dialaminya sebagai satu kesatuan yang utuh (holistic) , mereka belum dapat memisah-misahkan bahan kajian yang satu dengan yang lain.

2.      Di samping memperhatikan perkembangan intelektual anak, guru juga haru mengurangi dampak dari fenomena ini di antaranya anak tidak mampu melihat dan memecahkan masalah dari berbagai sisi, karena ia terbiasa berfikir secara fragmentasi, anak dikhawatirkan tidak memiliki cakrawala pandang yang luas dan integratif. Cakrawala pandang yang luas diperlukan dalam memecahkan permasalahan yang akan mereka hadapi nanti di masyarakat. Jadi merupakan bekal hidup yang sehat dalam memandang manusia secara utuh.

3.      Pembelajaran terpadu berpusat pada siswa (student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Peran guru lebih banyak sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

4.      Pembelajaran terpadu dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

5.      Dalam pembelajaran terpadu pemisahan antarmata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Bahkan dalam pelaksanaan di kelas-kelas awal sekolah dasar, fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tematema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

6.      Pembelajaran terpadu menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

7.      Pembelajaran terpadu bersifat luwes (fleksibel), sebab guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.

8.      Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Dengan demikian, siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

 

 

 

 


 

Daftar Pustaka

 

Ananda, Rusydi.Abdillah. 2018. Pembelajaran Terpadu. Medan: LPPKI

 

Depdiknas.2004. Model Pembelajaran Terpadu. Artikel. Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas

 

Hasnawati.2013. Sistem Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar. E-Journal Marwah. STAIN Bukit Tinggi. Vol XII, No.1 Juni tahun 2013.

 

Hernawan, Asep Herry. 2005. Pembelajaran Terpadu di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Kadir, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

 

Murfian, Uum. 2017.Model Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar. Jurnal Pesona Dasar. Universitas Syah Kuala: Vol.1 No.5 tahun 2017

 

Suprayitno. 2015. Pembelajaran Pendidikan Jasmani secara terpadu di Sekolah Dasar. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Negeri Meda. Vo.12, No.81 tahun 2015

 

Trianto. (2011). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.